Selasa, 15 Januari 2013

Skenario 1 Blok Kardiovaskular



A.      SKENARIO
Sakit Jantungkah saya?
Laki-laki 40 tahun, datang ke RS, dengan keluhan nyeri dada. Pada anamnesis, tidak didapatkan sesak napas, lekas lelah maupun dada berdebar-debar. Kebiasaan merokok dua bungkus sehari. Kebiasaan olahraga jarang, kadang-kadang seminggu sekali. Riwayat penyakit pasien tidak menderita Diabetus Melitus. Dia takut terkena penyakit jantung karena ayahnya pernah mengeluh nyeri dada, dirawat inap, dan dinyatakan menderita sakit jantung koroner.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan data: kesadaran compos mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 80 x/menit, irama reguler, isian cukup, respiration rate 18 x/menit, JVP tidak meningkat.
Pada inspeksi menunjukkan apeks tidak ada heaving, nampak di linea medioclavicularis sinistra SIC IV. Pada palpasi didapatkan apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra, tidak ada thrill. Pada perkusi didapatkan pinggang jantung normal, apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra. Pada auskultasi bunyi jantung I intensitas normal, bunyi jantung II intensitas normal, normal splitting. Tidak ada murmur. Tidak ada gallop. Tidak ada ronchi.
Pemeriksaan laboratorium normal. Pemeriksaan tambahan ECG normal. Pada foto thorax CTR = 0,49, vaskularisasi perifer normal, aorta tidak menonjol, pinggang jantung normal. Apeks tidak bergeser ke lateral atau lateral bawah. Pemeriksaan exercise stress test (treadmill test) normal. Pemeriksaan echocardiography menunjukkan jantung dalam batas normal.

B.       Rumusan Masalah
1.         Apa hubungan Diabetus Melitus dengan penyakit jantung?
2.         Apakah jantung koroner dapat diturunkan?
3.         Apa hubungan keluhan dengan hasil pemeriksaan fisik?
4.         Mengapa hasil pemeriksaan fisik cenderung normal?
5.         Apa hubungan kebiasaan pasien dengan jantung koroner?
6.         Bagaimanakah penilaian hasil CTR?
7.         Bergesernya apeks ke lateral mengarah pada kelainan apa?
8.         Mengarah kemanakah bila pada pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang menunjukkan adanya kelainan?
9.         Apakah EKG abnormal hanya dijumpai pada orang dengan penyakit jantung saja?
10.     Apa gold standart pemeriksaan kardiovaskuler?
11.     Bagaimanakah Differential Diagnosis?
12.     Bagaimana patofisiologi perbedaan gejala kelainan jantung dengan gejala kelainan pada paru?
13.     Bagaimana penatalaksanaan pasien dalam skenario?



DASAR TEORI DAN PEMBAHASAN

   Nyeri Dada
Ada 2 macam jenis nyeri dada yaitu:
1.    Nyeri dada pleuritik
Nyeri dada pleuritik biasa lokasinya posterior atau lateral. Sifatnya tajam dan seperti  ditusuk. Bertambah nyeri bila batuk atau bernafas dalam dan berkurang bila menahan  nafas atau sisi dada yang sakit digerakan. Nyeri berasal dari dinding dada, otot, iga,  pleura perietalis, saluran nafas besar, diafragma, mediastinum dan saraf interkostalis.  Nyeri dada pleuritik dapat disebakan oleh difusi pelura akibat infeksi paru, emboli paru, keganasan atau radang subdiafragmatik.

Skenario 1 Blok Gastrointestinal



Bayi Saya Kok Muntah Setelah Minum Susu Formula

Seorang bayi perempuan umur 5 hari dibawa ibunya ke dokter keluarga dengan keluhan selalu muntah sesudah minum susu formula. Alasan ibu memberikan susu formula karena produksi ASInya kurang lancar dan ibu belum terampil menyusui. Menurut ibunya sejak kemarin bayinya rewel, perutnya tampak membuncit dan kembung dan belum buang air besar. Selain itu ibu juga khawatir ketika mengamati kulit bayinya terlihat kekuningan.
Pada pemeriksaan tanda vital menunjukkan suhu tubuh per-rektal 37,2°C, repirasi 24x permenit, nadi 100x permenit. Pemeriksaan fisik menunjukkan kulit muka dan ekstremitas atas ikterik. Inspeksi abdomen tampak distended, tidak terlihat darm-contour maupun darm steifung. Palpasi: dinding abdomen supel, tidak terdapat defans muskuler. Perkusi: hipertimpani di area epigastric, timpani di area abdomen yang lain. Auskultasi terdengar bising usus 15 kali permenit, tidak terdengar borborigmi maupun metallic sound.
Dokter menanyakan lebih lanjut pola BAB selama 2 hari pertama dan menjelaskan kemungkinan bayi tersebut tidak dapat  mencerna susu formula dengan baik. Kemudian ibu bayi juga menanyakan: “apakah warna kekuningan berkaitan dengan muntah yang dialami bayinya?”.


STUDI PUSTAKA

A.      Anatomi dan Fisiologi Saluran Pencernaan
Saluran pencernaan atau systema digestiva dibagi menjadi 2 bagian yaitu systema digestiva propius dan systema digestiva accessoria. Systema digestiva propius merupakan saluran yang dilewati oleh makanan. Sedangkan systema digestiva accessoria merupakan organ-organ yang tidak dilewati makanan, namun dibutuhkan dalam proses pencernaan. Organ-organ tersebut adalah hepar, vesica fellea, lien dan pancreas.
Makanan masuk ke dalam tubuh manusia melalui rima oris, lalu menuju ke cavum oris. Dicavum oris, makanan mengalami 2 jenis pencernaan, yaitu pencernaan kimiawi dan mekanik. Pencernaan mekanik dilakukan oleh dentes. Berfungsi untuk memperkecil ukuran makanan sehingga luas permukaan semakin besar dan memperbesar kemungkinan kontak dengan enzim saat pencernaan kimiawi berlangsung di saluran selanjutnya. Pencernaan kimiawi dilakukan oleh enzim ptialin yang terdapat di saliva. Enzim ini dihasilkan oleh kelenjar saliva, terutama glandula submandibularis.
Selanjutnya makanan akan ditelan. proses menelan terdiri dari 3 tahap, yaitu fase volunter, fase pharyngeal dan fase oesophageal. Fase volunter adalah fase sadar ketika kita dengan sadar melakukan proses menelan. Pada fase pharyngeal, makanan sampai di bagian posterior oropharynx dan akan menyentuk epitel reseptor menelan yang terdapat di sekitar pintu pharynk. Hal ini akan merangsang proses berikut, 1) palatum molle menutup nares posterioses, agar tidak terjadi reflux makanan ke nasus, 2) plica palatopharingeal menyempit sehingga selektif untuk makanan yang telah siap ditelan, 3) epiglottis menutup, 4) sprinter faringoesophageal relaksasi. Masuknya makanan ke oesophagus menunjukkan dimulainya fase oesophageal. Di dalam oesophagus, makanan tidak mengalami pencernaan, namun hanya lewat dengan dibantu gerakan peristaltik. Pada oesophagus terdapat 3 penyempitan, yaitu saat pharynx bersatu dengan ujung atas oesophagus, saat terjadi persilangan antara arcus aorta dengan bronchus primarius sinister dam saat oesophadus memasuki hiatus oesophagus setinggi VT 10.

Minggu, 06 Januari 2013

Skenario 1 Blok THT


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
       Rinitis adalah suatu infeksi hidung yang bisa disebabkan karena banyak hal. Rinitis juga digolongkan menjadi beberapa macam, diantaranya rinitis alergi, rinitis vasomotor, rinitis medikamentosa, rinitis atrofi, rinitis difteri, dan rinitis jamur. Mekanisme atau patofisiologi terhadap penyakit rinitis juga bermacam-macam tergantung dari jenisnya.
       Dalam skenario didapatkan pasien dengan sakit rinitis alergi. Rinitis alergi merupakan peyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yagn sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut. Biasanya pasien mengalami gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal, dan hidung tersumbat setelah terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.
       Selain itu, didapatkan juga bahwa pasien menderita polip dan sinusitis. Polip hidung adalah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung yang berwarna putih keabuan. Sedangkan sinusitis adalah inflamasi pada mukosa sinus paranasal yang penyebab utamanya adalah salesma (infeksi virus), selanjutnya diikuti infeksi bakteri. Sinusitis termasuk salah satu penyakit yagn paling sering terjadi dalam praktek dokter sehari-hari. Penemuan dari penyakit-penyakit yang di derita pasien pada skenario 1 pada blok THT akan dijabarkan lebih lanjut di bab-bab selanjutnya.
       Berikut ini adalah permasalahan pada skenario 1
“Seorang laki-laki 35 tahun didiagnosis menderita polip hidung, sekitar 1 tahun ini dia merasakan pilek terus menerus disertai bersin-bersin terutama jika terpapar debu, gangguan dirasakan terutama saat bernafas, hidung terasa tersumbat, tidak bisa menghidu, kadang-kadang disertai nyeri kepala separo dan tercium bau busuk terutama pagi hari. Sejak lama, istrinya juga mendengar suaminya mengeluh sakit gigi, tetapi tidak pernah dibawa ke dokter gigi, hanya berkumur air garam dan rendaman daun sirih, dan jika bengkak hanya menggunakan koyo yang ditempelkan pada pipinya. Karena keluhan dirasakan makin berat bahkan terkadang sampai mengeluarkan darah jika membuang ingus dan berbau busuk maka ia mengantarkan suaminya ke poli THT.
       Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior didapat konkha hipertrofi, massa putih, discharge kental, kuning kecoklatan.
       Pada pemeriksaan orofaring didapatkan post nasal drip, dan gigi gangren pada M1 kiri atas serta M2 kanan atas. Pada foto kepala posisi Water’s Pa, dan lateral, terlihat air fluid level pada sinusitis maksilaris dextra.
       Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis dan peningkatan eosinofil.”

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana anatomi, fisiologi, dan histologi dari hidung dan gigi?
2.      Bagimana mekanisme bersin? Apa saja pemicu reaksi bersin?
3.      Bagaimana patofisiologi dari gejala yang dialami pasien?
4.      Adakah hubungan sakit gigi dengan penyakit yang diderita pasien?
5.      Apakah pengaruh pemakaian koyo, air garam, dan rendaman air daun sirih pada pasien?
6.      Bagaimana analisi data hasil pemeriksaan rhinoskopi, pemeriksaan orofaring, pemeriksaan foto kepala, dan pemeriksaan labolatorium?
7.      Apa diagnosis dan diagnosis banding pada skenario ini?
8.      Bagaimana penatalaksaan pasien pada skenario?

C.     TUJUAN
1.      Mengetahui anatomi, fisiologi, dan histologi dari hidung dan gigi.
2.      Mengetahui mekanisme bersin,dan Apa saja pemicu reaksi bersin.
3.      Mengetahui patofisiologi dari gejala yang dialami pasien.
4.      Mengetahui hubungan sakit gigi dengan penyakit yang diderita pasien.
5.      Mengetahui pengaruh pemakaian koyo, air garam, dan rendaman air daun sirih pada pasien.
6.      Mengetahui analisi data hasil pemeriksaan rhinoskopi, pemeriksaan orofaring, pemeriksaan foto kepala, dan pemeriksaan labolatorium.
7.      Mengetahui diagnosis dan diagnosis banding pada skenario ini.
8.      Mengetahui penatalaksaan pasien pada skenario.

D.    MANFAAT
     Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami dasar teori meliputi etiologi, patologi, dan patofisiologi mengenai penyakit hidung dan kelainan pada hidung, sehingga dapat menegakkan diagnosis dan memberikan penanganan yang tepat pada pasien













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.      Anatomi Hidung dan Gigi
A.    Nasus (Hidung)
Pada permukaan inferior nasus terdapat dua lubang , yaitu nares anteriores yang dipisahkan satu sama lain oleh septum nasi.
Septum nasi terdiri dari:
-     Lamina perpendicularis ossis ethmoidalis
-     Os vomer
-     Cartilago septi nasi
Ø Cavum Nasi
Cavum nasi dapat berhubungan dengan nasofaring melalui choanae. Bagian 2/3 inferior membran mukosa cavum nasi termasuk area respiratoria, sedangkan bagian 1/3 superior merupakan area olfaktoria. Cavum nasi ini dilapisi oleh membran mukosa, kecuali bagian vestiblum nasi yang dilapisi oleh kulit