Senin, 19 Maret 2012

LAPORAN FIELD LAB TOPIK IMUNISASI


Pelaksanaan Program Imunisasi di Puskesmas Tangen Kabupaten Sragen


BAB I
PENDAHULUAN

Imunisasi merupakan proses dalam tubuh agar seseorang menjadi kebal atau dapat melawan mikroorganisme yang masuk, yaitu dengan pemberian vaksin.Imunisasi dilakukan dengan tujuan pertahanan tubuh yang dimulai sejak lahir sehingga dapat mengeliminasi virus atau infeksi yang mungkin dapat membahayakan kesehatan. Diharapkan dengan adanya imunisasi ini akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan menurunkan angka kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Vaksin menurut sumbernya dibedakan menjadi vaksin hidup (Live attenuated vaccine), vaksin mati (Killed vaccine / Inactivated vaccine) ,rekombinan, toksoid, dan vaksin Plasmid DNA (Plasmid DNA Vaccines)

BAB II
DASAR TEORI

IMUNISASI
a.Pengertian
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen. (IDAI, 2005)
Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberiakn perlindungan kekebalan di dalam tuuh bayi dan anak guna melindungi dan mencegah penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak. (Rumah Sakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Sarosa, 2007. www.info@infeksi.com)

b.Macam macam Imunisasi
Terdapat dua macam Imunisasi, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2005, yaitu :
a)Imunisasi Aktif
Merupakan pemberian imunisasi berupa pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibody sendiri. Contohnya adalah imunisasi campak, polio, BCG, Hepatitis B, DPT.
b)Imunisasi Pasif
Penyuntikan sejumlah antibody, sehingga kadar antibiotic dalam tubuh meningkat, contohnya adalah pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibody dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan, missal antibody terhadap campak.
Terdapat 2 macam imunisasi, menurut Litbang, yaitu :
1.      Imunisasi dasar ialah pemberian kekebalan I, II, III pada bayi.
2.      Imunisasi ulang ialah pemberian kekebalan setelah imunisasi dasar.

c.Tujuan Imunisasi
Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan manghilangkan penyakit tertentu. (Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2005)

d.Manfaat Imunisasi
Manfaat dari Imunisasi adalah :
1.Untuk Anak
Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kematian.
2.Untuk Keluarga
Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.
3.Untuk Negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan Negara.

e.Standar Ketetapan Imunisasi
Target Universal Child Immunization (UCI) dalam cakupan imunisasi untuk BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B harus mencapai 80 %, baik ditingkat nasional, provinsi dan kabupaten bahkan disetiap desa. (Satgas Imunisasi-IDAI, 2005)


Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum / telan. Setelah bibit penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membantuk antibodi. Antibodi itu uumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk melawan penyakit yang mencoba menyerang.
Pada dasarnya vaksin dibuat dari :
1.Kuman yang telah dimatikan/dilemahkan.
-Contoh yang dimatikan : vaksin polio salk
-contoh yang dilemahkan : vaksin BCG, vaksin campak
2.Zat Racun yang telah dimatikan.
Contoh : toksoid tetanus.
3.Bagian Kuman tertentu.
Contoh: vaksin hepatitis B
Imunisasi di Indonesia
            Di Indonesia pelayanan imunisasi dasar/rutin dapat diperoleh pada :
a.Pusat pelayanan yang dimiliki oleh pemerintah , seperti puskesmas,rumah sakit.
b.Pelayanan di luar gedung , namun diselenggarakan oleh pemerintah , misalnya program Bulan imunisasi Anak Sekolah yang diadakan di sekolah sekolah.
c.Imunisasi rutin juga didapat di praktek bidan swasta ,dokter praktik swasta / rumah sakit swasta.
Jadwal Imunisasi di Indonesia.
Terlampir di Halaman Lampiran
Dasar Hukum penyelenggaraan  program imunisasi :
1.UU no.23 th.1992 tentang kesehatan
2.UU no.1984 tentang wabah penyakit menular.
3.UU no.1 tahun 1962 tentang karantina laut.
4.UU no.2 tahun 1962 tentang karantina udara.
5.Kep.Menkes no.1611/Menkes/SK/XI/2005 tentang pedoman penyelenggaraan imunisasi.
Jenis – Jenis Imunisasi
  1. BCG
  2. Hepatitis B
  3. Polio
  4. DTP
  5. Campak


  1. Imunisasi BCG
BCG adalah vaksin untuk mencegah penyakit TBC, orang bilang flek paru. Meskipun BCG merupakan vaksin yang paling banyak di gunakan di dunia (85% bayi menerima 1 dosis BCG pada tahun 1993), tetapi perkiraan derajat proteksinya sangat bervariasi dan belum ada penanda imunologis terhadap tuberculosis yang dapat dipercaya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan proteksi BCG berkurang jika telah ada sensitisasi dengan mikobakteria lingkungan sebelumnya, tetapi data ini tidak konsisten.
Karena itu, BCG dianjurkan diberikan umur 2-3 bulan) atau dilakukan uji tuberkulin dulu (bila usia anak lebih dari 3 bulan.IDAI) untuk mengetahui apakah anak telah terinfeksi TBC atau belum (lihat jadwal imunisasi) Dan lagi, kekebalan untuk penyakit TBC tidak diturunkan dari ibu ke anak (imunitas seluler), karena itu anak baru lahir tidak punya kekebalan terhadap TBC. Makanya ibu-ibu harus segera memberikan imunisasi BCG buat anaknya.
Perlu diketahui juga, derajat proteksi imunisasi BCG tidak ada hubungannya dengan hasil tes tuberkulin sesudah imunisasi dan ukuran parut (bekas luka suntikan) dilengan. Jadi tidak benar kalau parutnya kecil atau tidak tampak maka imunisasinya dianggap gagal.
Imunsasi BCG diberikan dengan dosis 0,05 ml pada bayi kurang dari 1 tahun, dan 0,1 ml pada anak. Disuntikkan secara intrakutan.
Royan said : maksudnya disuntikkan ke dalam lapisan kulit (bukan di otot). Bila penyuntikan benar, akan ditandai kulit yang menggelembung.
BCG ulang tidak dianjurkan karena manfaatnya diragukan. BCG tidak dapat diberikan pada penderita dengan gangguan kekebalan seperti pada penderita lekemia (kanker darah), anak dengan pengobatan obat steroid jangka panjang dan penderita infeksi HIV.
  1. Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B ini juga merupakan imunisasi yang diwajibkan, lebih dari 100 negara memasukkan vaksinasi ini dalam program nasionalnya. Jika menyerang anak, penyakit yang disebabkan virus ini sulit disembuhkan. Bila sejak lahir telah terinfeksi virud hepatitis B (VHB) dapat menyebabkan kelainan-kelainan yang dibawanya terus hingga dewasa. Sangat mungkin terjadi sirosis atau pengerutan hati.
Banyak jalan masuk virus hepatitis B ke tubuh si kecil. Yang potemsial melalui jalan lahir. Cara lain melalui kontak dengan darah penderita, semisal transfusi darah. Bisa juga melali alat-alat medis yang sebelumnya telah terkontaminasi darah dari penderita hepatitis B, seperti jarum suntik yang tidak steril atau peralatan yang ada di klinik gigi. Bahkan juga bisa lewat sikat gigi atau sisir rambut yang digunakan antar anggota keluarga.
Malangnya, tak ada gejala khas yang tampak secara kasat mata. Bahkan oleh dokter sekalipun. Fungsi hati kadang tak terganggu meski sudah mengalami sirosis. Anak juga terlihat sehat, nafsu makan baik, berat badan juga normal. Penyakit baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan darah.
Upaya pencegahan adalah langkah terbaik. Jika ada salah satu anggota keluarga dicurigai kena Virus Hepatitis B, biasanya dilakukan screening terhadap anak-anaknya untuk mengetahui apakah membawa virus atau tidak. Selain itu, imunisasi merupakan langkah efektif untuk mencegah masuknya virus hepatitis B.
Jumlah Pemberian: Sebanyak 3 kali, dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua, kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga.
Usia Pemberian Sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir. Dengan syarat, kondisi bayi stabil, tak ada gangguan pada paru-paru dan jantung. Dilanjutkan pada usia 1 bulan, dan usia 3-6 bulan. Khusus bayi yang lahir dari ibu pengidap VHB, selain imunisasi tsb dilakukan tambahan dengan imunoglobulin antihepatitis B dalam waktu sebelum usia 24 jam.
Lokasi Penyuntikan: Pada anak di lengan dengan cara intramuskuler. Sedangkan pada bayi di paha lewat anterolateral (antero= otot-otot bagian depan, lateral= otot bagian luar). Penyuntikan di bokong tidak dianjurkan karena bisa mengurangi efektivitas vaksin.
Tanda Keberhasilan: Tak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. Namun dapat dilakukan pengukuran keberhasilan melalui pemeriksaan darah dengan mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak berusia setahun. Bila kadarnya di atas 1000, berarti daya tahanya 8 tahun; diatas 500, tahan 5 tahun; diatas 200 tahan 3 tahun. Tetapi kalau angkanya cuma 100, maka dalam setahun akan hilang. Sementara bila angkanya 0 berarti si bayi harus disuntik ulang 3 kali lagi.
Tingkat Kekebalan: Cukup tinggi, antara 94-96%. Umumnya setelah 3 kali suntikan, lbih dari 95% bayi mengalami respons imun yang cukup.
Indikator Kontra: Tak dapat diberikan pada anak yang sakit berat
  1. Polio
Imunisasi polio ada 2 macam, yang pertama oral polio vaccine atau yang sering dilihat dimana mana yaitu vaksin tetes mulut. Sedangkan yang kedua inactivated polio vaccine, ini yang disuntikkan. Kalo yang tetes mudah diberikan, murah dan mendekati rute penyakit aslinya, sehingga banyak digunakan. Kalo yang injeksi efek proteksi lebih baik tapi mahal dan tidak punya efek epidemiologis. Selain itu saat ini MUI telah mengeluarkan fatwa agar pemakaian vaksin polio injeksi hanya ditujukan pada penderita yang tidak boleh mendapat vaksin polio tetes karena daya tahan tubuhnya lemah
Polio atau lengkapnya poliomelitis adalah suatu penyakit radang yang menyerang saraf dan dapat menyebabkan lumpuh pada kedua kaki. Walaupun dapat sembuh, penderita akan pincang seumur hidup karena virus ini membuat otot-otot lumpuh dan tetap kecil.
Virus polio menyerang tanpa peringatan, merusak sistem saraf menimbulkan kelumpuhan permanen, biasanya pada kaki. Sejumlah besar penderita meninggal karena tidak dapat menggerakkan otot pernapasan. Ketika polio menyerang Amerika selama dasawarsa seusai Perang Dunia II, penyakit itu disebut ‘momok semua orang tua’, karena menjangkiti anak-anak terutama yang berumur di bawah lima tahun. Di sana para orang tua tidak membiarkan anak mereka keluar rumah, gedung-gedung bioskop dikunci, kolam renang, sekolah dan bahkan gereja tutup.
Virus polio menular secara langsung melalui percikan ludah penderita atau makanan dan minuan yang dicemari.
Pencegahannya dengan dilakukan menelan vaksin polio 2 (dua) tetes setiap kali sesuai dengan jadwal imunisasi.
  1. DPT
DPT adalah vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan tetanus yang dimurnikan, serta bakteri pertusis yang telah diinaktivasi yang teradsorbsi ke dalam 3 mg / ml Aluminium fosfat. Thimerosal 0,1 mg/ml digunakan sebagai pengawet. Potensi vaksin per dosis tunggal sedikitnya 4 IU pertussis, 30 IU difteri dan 60 IU tetanus.
Indikasi Untuk Imunisasi secara simultan terhadap difteri, tetanus dan batuk rejan.
Komposisi Tiap ml mengandung : Toksoid difteri yang dimurnikan 40 Lf Toksoid tetanus yang dimurnikan 15 Lf B, pertussis yang diinaktivasi 24 OU Aluminium fosfat 3 mg Thimerosal 0,1 mg
Dosis dan Cara Pemberian Vaksin harus dikocok dulu untuk menghomogenkan suspensi. Vaksin harus disuntikkan secara intramuskuler atau secara subkutan yang dalam. Bagian anterolateral paha atas merupakan bagian yang direkomendasikan untuk tempat penyuntikkan. (Penyuntikan di bagian pantat pada anak-anak tidak direkomendasikan karena dapat mencederai syaraf pinggul). Tidak boleh disuntikkan pada kulit karena dapat menimbulkan reaksi lokal. Satu dosis adalah 0,5 ml. Pada setiap penyuntikan harus digunakan jarum suntik dan syringe yang steril.
Di negara-negara dimana pertussis merupakan ancaman bagi bayi muda, imunisasi DPT harus dimulai sesegera mungkin dengan dosis pertama diberikan pada usia 6 minggu dan 2 dosis berikutnya diberikan dengan interval masing-masing 4 minggu. Vaksin DPT  dapat diberikan secara aman dan efektif pada waktu yang bersamaan dengan vaksinasi BCG, Campak, Polio (OPV dan IPV), Hepatitis B, Hib. dan vaksin Yellow Fever.
Kontraindikasi Terdapat beberapa kontraindikasi yang berkaitan dengan suntikan pertama DPT. Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala-gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi dari komponen pertussis. Imunisasi DPT kedua tidak boleh diberikan kepada anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama DPT. Komponen pertussis harus dihindarkan, dan hanya dengan diberi DT untuk meneruskan imunisasi ini. Untuk individu penderita virus human immunodefficiency (HIV) baik dengan gejala maupun tanpa gejala harus diberi imunisasi DPT sesuai dengan standar jadual tertentu.
  1. Campak
Imunisasi campak, sebenarnya bayi sudah mendapatkan kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit campak mudah menular, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan virus Morbili ini. Untungnya campak hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena campak, setelah itu biasanya tak akan terkena lagi.
Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah (droplet) penderita yang terhirup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari, gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah muncul gejala flu (batuk, pilek, demam), mata kemerahabn dan berair, si kecilpun merasa silau saat melihat cahaya. Kemudian, disebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak juga mengalami diare. satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5 derajat celcius.
Seiring dengan itu barulah muncul bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas penyakit ini. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Awalnya haya muncul di beberapa bagian tubuh saja seperti kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Dalam waktu 1 minggu, bercak-bercak merah ini hanya di beberapa bagian tibih saja dan tidak banyak.
Jika bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah pun akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya. Umumnya dibutuhkan waktu hingga 2 minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak. Dalam kondisi ini tetaplah meminum obat yang sudah diberikan dokter. Jaga stamina dan konsumsi makanan bergizi. Pengobatannya bersifat simptomatis, yaitu mengobati berdasarkan gejala yang muncul. Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang efektif mengatasi virus campak.
Jika tak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya. Bisa terjadi komplikasi, terutama pada campak yang berat. Ciri-ciri campak berat, selain bercaknya di sekujur tubuh, gejalanya tidak membaik setelah diobati 1-2 hari. Komplikasi yang terjadi biasanya berupa radang paru-paru dan radang otak. Komplikasi ini yang umumnya paing sering menimbulkan kematian pada anak.
Usia dan Jumlah Pemberian Sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella).
Efek Imunisasi dan KIPI
- Efek Imunisasi
Imunisasi memang penting untuk membangun pertahanan tubuh bayi. Tetapi, orangtua masa kini seharusnya lebih kritis terhadap efek samping imunisasi yang mungkin menimpa Si Kecil.
Pertahanan tubuh bayi dan balita belum sempurna. Itulah sebabnya pemberian imunisasi, baik wajib maupun lanjutan, dianggap penting bagi mereka untuk membangun pertahanan tubuh. Dengan imunisasi, diharapkan anak terhindar dari berbagai penyakit yang membahayakan jiwanya.
Di lain pihak, pemberian imunisasi kadang menimbukan efek samping. Demam tinggi pasca-imunisasi DPT, misalnya, kerap membuat orangtua was-was. Padahal, efek samping ini sebenarnya pertanda baik, karena membuktikan vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh tengah bekerja. Namun, kita pun tidak boleh menutup mata terhadap fakta adakalanya efek imunisasi ini bisa sangat berat, bahkan berujung kematian. Realita ini, menurut Departemen Kesehatan RI disebut "Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi"(KIPI). Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan (KN PP) KIPI, KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi.

- Tidak Ada yang Bebas Efek Samping
Menurut Komite KIPI, sebenarnya tidak ada satu pun jenis vaksin imunisasi yang aman tanpa efek samping. Oleh karena itu, setelah seorang bayi diimunisasi, ia harus diobservasi terlebih dahulu setidaknya 15 menit, sampai dipastikan tidak terjadi adanya KIPI (reaksi cepat).
Selain itu, menurut Prof. DR. Dr. Sri Rejeki Hadinegoro SpA.(K), untuk menghindari adanya kerancuan antara penyakit akibat imunisasi dengan yang bukan, maka gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu. "Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat. Dilihat dari gejalanya pun, dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya," terang Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.
Pada umumnya, semakin cepat KIPI terjadi, semakin cepat gejalanya. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (pasca-vaksinasi rubella), bahkan 42 hari (pasca-vaksinasi campak dan polio). Reaksi juga bisa diakibatkan reaksi simpang (adverse events) terhadap obat atau vaksin, atau kejadian lain yang bukan akibat efek langsung vaksin, misalnya alergi. "Pengamatan juga ditujukan untuk efek samping yang timbul akibat kesalahan teknik pembuatan, pengadaan, distribusi serta penyimpanan vaksin. Kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata kejadian yang timbul kebetulan," demikian Sri.
Penelitian Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine (IOM), AS, melaporkan, sebagian besar KIPI terjadi karena faktor kebetulan. "Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan atau pragmatic errors)," tukas dokter yang berpraktek di RSUPN Cipto Mangunkusumo ini.
Stephanie Cave MD, ahli medis yang menulis "Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi Pada Anak" menyebutkan, peluang terjadinya efek samping vaksin pada bayi dan anak-anak adalah karena mereka dijadikan target imunisasi massal oleh pemerintah, pabrik vaksin, maupun dokter. Padahal, imunisasi massal yang memiliki sikap "satu ukuran untuk semua orang" ini sangat berbahaya. Karena, "Setiap anak adalah pribadi tersendiri, dengan bangun genetika, lingkungan sosial, riwayat kesehatan, keluarga dan pribadi yang unik, yang bisa berefek terhadap cara mereka bereaksi terhadap suatu vaksin," demikian Cave.

- Beberapa Kejadian Pasca-Imunisasi
Secara garis besar, tidak semua KIPI disebabkan oleh imunisasi. Sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa faktor KIPI yang bisa terjadi pasca-imunisasi:
  1. Reaksi suntikan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusukan jarum suntik, baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan. Sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope atau pingsan.
  1. Reaksi vaksin
Gejala KIPI yang disebabkan masuknya vaksin ke dalam tubuh umumnya sudah diprediksi terlebih dahulu karena umumnya "ringan". Misal, demam pasca-imunisasi DPT yang dapat diantisipasi dengan obat penurun panas. Meski demikian, bisa juga reaksi induksi vaksin berakibat parah karena adanya reaksi simpang di dalam tubuh (misal, keracunan), yang mungkin menyebabkan masalah persarafan, kesulitan memusatkan perhatian, nasalah perilaku seperti autisme, hingga resiko kematian.
  1. Faktor kebetulan
Seperti disebut di atas, ada juga kejadian yang timbul secara kebetulan setelah bayi diimunisasi. Petunjuk "faktor kebetulan" ditandai dengan ditemukannya kejadian sama di saat bersamaan pada kelompok populasi setempat, dengan karakterisitik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi.
  1. Penyebab tidak diketahui
Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab, maka untuk sementara dimasukkan ke kelompok "penyebab tidak diketahui" sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya, dengan kelengkapan informasi akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.
Efek samping yang biasa terjadi adalah sebagai berikut:
  1. BCG: Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan. Setelah 2–3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah ±10 mm. Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan luka parut yang kecil.
  2. DPT: Kebanyakan bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi DPT, tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Sebagian besar merasa nyeri, sakit, kemerahan atau bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, akan sembuh sendiri.Bila gejala diatas tidak timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan dan Imunisasi tidak perlu diulang.
  3. POLIO : Jarang timbuk efek samping.
  4. CAMPAK : Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 4–10 hari sesudah penyuntikan.
  5. HEPATITIS : Belum pernah dilaporkan adanya efek samping.
Perlu diingat efek samping imunisasi jauh lebih ringan daripada efek penyakit bila bayi tidak diimunisasi.
KIPI Yang Harus Dilaporkan 24 Jam Pasca Imunisasi
-Reaksi anafilaktoid (reaksi hipersensitivitas akut).
-Anafilaksis.
-Menangis yang tidak berhenti selama > 3 jam (persistent inconsolable screaming).
-Hypotonic hyporesponsive episode
-Toxic shock syndrome
KIPI yang Harus Dilaporkan 5 hari pasca imunisas
-Reaksi lokal hebat.
-Sepsis.
-Abses pada bekas suntikan (infeksi / steril)
KIPI yang Harus Dilaporkan 30 hari pasca imunisasi
-Ensefalopati.
-Kejang.
-Meningitis aseptik.
-Trombositopenia.
-Lumpuh layu (accute flaccid paralysis).
-Meninggal, Dirawat di RS.
-Reaksi Lokal yang hebat.
-Abses di Daerah suntikan.
-Neuritis Brakhial
KIPI Yang Harus Dilaporkan 3 Bulan Pasca Imunisasi
-Lumpuh layu (acute flaccid paralysis)
-Polio 4 – 30 hari.
-Neuritis brakhialis.
-Tetanus 2 – 28 hari

BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN

  1. Jadwal Pelaksanaan
Field lab keterampilan imunisasi ini dilaksanakan sebanyak dua kali yaitu pada hari Selasa, 12 April 2011, dan Selasa, 26 April 2011, di Puskesmas Tangen,Sragen.

  1. Gambaran Umum Kegiatan
Pada hari pertama, Selasa,12 April 2011 kegiatan yang kami lakukan adalah pembekalan materi dan teknis pelaksanaan keterampilan imunisasi oleh Ibu Sri Lestari Amd Keb. instruktur lapangan dari puskesmas Tangen. Materi yang diberikan meliputi:
1.      Jenis vaksin yaitu: BCG, DPT, TT, DT, Polio, Campak, dan Hb.
2.      Penggolongan vaksin.
3.      Peralatan rantai vaksin
4.      Sasaran program imunisasi
5.      Penatalaksanaan KIPI
Selain memberikan materi seputar keterampilan imunisasi, instruktur lapangan juga menjelaskan mengenai teknis pelaksanaan imunisasi di Puskesmas Tangen.  Penjelasan tersebut meliputi cara menghitung jumlah sasaran, menentukan cakupan target, menghitung indeks pemakaian vaksin, merencanakan kebutuhan alat suntik dan safety box, serta menghitung kebutuhan peralatan rantai vaksin di Puskesmas Tangen.
Setelah pembekalan materi,kami sekelompok melakukan presentasi tentang Imunisasi Dasar,mulai dari jenis imunisasi hingga penanganan KIPI, yang juga disaksikan oleh Kepala Puskesmas Tangen , dr.Triono Nugroho .
Setelah melakukan presentasi, instruktur lapangan memberi kesempatan pada mahasiswa untuk melakukan observasi terhadap peralatan vaksin dan rantai vaksin yang ada di Puskesmas tangen, berupa Lemari Es, Vaccine Carrier, Termos, Cool Pack, Cold Box, dan Spuit. Instruktur juga memperagakan langsung bagaimana prosedur dalam melakukan imunisasi.
Pada hari kedua, Selasa, 26 April 2011, kami melihat langsung pelaksanaan imunisasi yang dilaksanakan di Kecamatan  Tangen,kali ini kelompok kami dibagi menjadi 2,kebetulan praktikan berada di kelompok yang  meninjau pelaksanaan imunisasi di desa Galeh.
Berikut merupakan langkah-langkah dalam pemberian vaksin:
1.      Mempersiapkan Sasaran
Mengatur posisi untuk sasaran anak:
·         Mintalah ibu untuk duduk dan memangku anaknya. Salah satu lengan ibu berada di punggung anak dan salah satu lengan anak melilit pinggang ibu
·         Ibu menyelipkan kaki anak diantara kedua pahanya agar tidak menimbulkan gerakan yang membahayakan
·         Petugas kesehatan tidak memegang anak dan memberitahu ibu jika akan memberikan suntikan
2.      Pemberian Vaksinasi BCG
2.1  Menyiapakan semprit
·         Ambil semprit BCG, pasang jarumnya dan pastikan jarum terpasang dengan baik dan cukup kuat
2.2  Mengisi semprit
·         Isaplah vaksin BCG, dilebihkan sedikit dari dosis agar pada waktu membuang gelembung udara  jumlah vaksin menjadi tepat satu dosis
2.3  Mengeluarkan gelembung udara
·         Peganglah semprit seperti pada posisi merokok
·         Bila udara telah terkumpul di bagian atas, doronglah piston sampai gelembung udara dan sedikit vaksin keluar. Yakinkan semprit tidak bocor
2.4  Cara pemberian vaksinasi
·         Pemberian vaksin BCG adalah secar intrakutan di sepertiga bagian lengan kanan atas lalu bersihkan lengan dengan kapas yang dibasahi air
·         Peganglah lengan kanan anak dengan tangan kiri, sehingga tangan penyuntik ada di bawah lengan anak, lingkarkan ibu jari dan jari-jari ke lengan bayi dan regangkan kulitnya
·         Pegang semprit dengan tangan kanan, lubang jarum menghadap ke atas
·         Letakkan semprit dan jarum hampir sejajar dengan lengan anak
·         Masukkan ujung jarum ke dalam kulit. Jangan menekan terlalu dalam dan jangan mengarahkan ujung jarum terlalu menukik.
·         Letakkan ibu jari kiri di atas ujung barel, pegang pangkal barel di antara jari telunjuk dan jari tengah, dan dorong piston dengan ibu jari tangan kanan
·         Suntikkan 0,05 cc vaksin, pada suntikan intrakutan akan terasa ada tekanan sehingga perlu menekan piston lebih keras, kemudian cabut jarumnya.
·         Bila cara menyuntik tepat, maka akan muncul benjolan di kulit yang bening dan pucat, pori-pori kulit terlihat jelas
3.      Pemberian Vaksin DPT, TT, dan Hepatitis B
·         Pemberian vaksin adalah secara intra muskulair, tempat yang paling baik adalah bagian pertengahan paha anterolateral/bagian luar
·         Usaplah sekitar kulit yang akan disuntik dengan kapas yang dibasahi air
·         Letakkan ibu jari dan jari telunjuk pada sisi yang akan disuntik kemudian regangkan kulit
·         Tusukkan jarum tegak lurus ke bawah sampai masuk ke dalam otot
·         Tarik piston sedikit untuk memastikan bahwa jarum tidak mengenai pembuluh darah
·         Dorong pangkal piston dengan ibu jari untuk memasukkan vaksin, suntikkan pelan-pelan, kemudian cabut jarumnya


4.      Pemberian Vaksin Campak
·          Pemberian vaksin adalah secar subkutan dalam, tempat yang disuntuk adalah sepertiga lengan bagian atas/pertengahan muskulus deltoideus
·         Usaplah sekitar kulit yang akan disuntik dengan kapas yang dibasahi air
·         Jepitlah lengan yang akan disuntik dengan jari tangan kanan, seperti mencubit menggunakanibu jari dan telunjuk
·         Masukkan jarum ke dalam kulit yang dijepit dengan sudut kira-kira 30-45 derajat posisi lengan, jangan menusuk terlalu dalam. Tahan pangkal piston dengan jari tangan sambil menekan jarum ke dalam
·         Tarik piston sedikit untuk meyakinkan bahwa jarum tidak kena pembuluh darah
·         Tekan piston pelan-pelan dan suntukkan sebanyak 0,5cc
·         Cabut jarumnya dan usap bekas suntikan dengan kapas yang dibasahi air

5.      Pemberian Vaksin polio
·         Pemberian dilakukan secara oral
·         Dosis yang diberikan sebanyak 2 tetes

  1. Hasil Pengamatan
Di bawah ini adalah tabel yang berisi data mengenai bayi  yang melakukan imunisasi di Desa Galeh,Kecamatan Tangen,Kabupaten Sragen pada hari Selasa, 26 April 2011.
No
Nama
Umur
(bulan)
Imunisasi yang diberikan
1
Rizma
2
BCG,Polio
2
Yesha
3
DPT,Polio
3
Wonda
2
DPT,Polio
4
Keisya
9
Campak,Polio
5
Syarifah
2
DPT,Polio
6
Tiara
4
DPT,Polio
7
Felisia
4
DPT,Polio
8
Pram
5
DPT,Polio
9
Dava
5
DPT,Polio
10
Fajar
1
BCG,Polio
11
Mila
1
BCG,Polio
12
Bilal
3
DPT,Polio
13
Dwi
4
DPT,Polio
14
Fahreza
2
BCG,Polio
15
Karunia
5
DPT,Polio
16
Churil
4
DPT,Polio
17
Yusuf
5
DPT,Polio
18
Khaja
4
DPT,Polio
19
Siti
9
Campak,Polio
20
Aida
2
DPT,Polio
21
Candra
4
DPT,Polio
22
Yuda
5
DPT,Polio
23
Jamaludin
1
BCG,Polio
24
Arif
4
DPT,Polio
25
Risa
7
DPT,Polio
26
Lutfiana
3
DPT,Polio
27
Elsa
9
Campak,Polio
28
Vino
2
DPT,Polio
29
Reyhan
3
BCG,Polio
30
Dahiya
1
BCG,Polio
31
Rais
3
DPT,Polio
32
Alvindra
3
BCG,Polio
33
Aryo
8
BCG,Polio
34
Chusna
1
BCG,Polio
35
Ahmad
1
BCG,Polio
Data bayi dan balita yang diimunisasi
                                      
BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam kegiatan Field Lab di Puskesmas, setiap mahasiswa melakukan observasi terhadap pelaksanaan imunisasi. Di Puskesmas Tangen, program imunisasi dilaksanakan tidak menentu,namun sudah ditentukan tanggalnya sebelumnya,hal ini bertujuan untuk meningkatkan efektifitas vaksin. Pelaksanaan imunisasi diadakan oleh Bidan desa di kecamatan tangen.Setiap ibu dan balita yang hendak mendapatkan imunisasi diwajibkan membawa buku pemantauan ibu hamil dan balita. Hal ini bertujuan agar bidan yang memeriksa dapat mengetahui dan mengecek kembali imunisasi yang pernah diberikan sebelumnya. Tujuannya untuk meminimalisasi kekeliruan pemberian imunisasi pada usia balita yang bersangkutan.
Imunisasi dasar BCG diberikan pada bayi yang baru lahir atau maksimal pada usia 1 bulan. Vaksin BCG merupakan salah satu vaksin yang memiliki bentuk sediaan kering. Jadi, vaksin tersebut harus dilarutkan menggunakan diluent khusus BCG menggunakan alat suntik oplos. Satu kemasan vial BCG dapat digunakan kira-kira untuk 20 anak. Namun, pada praktek di lapangan, 1 sediaan BCG hanya dapat dipakai untuk 7 anak, hal ini terjadi karena adanya vaksin yang terbuang ketika membuang gelembung dari semprit atau terbuang saat mencocokkan dosis pemberian. Vaksin BCG yang telah dilarutkan hanya bisa digunakan untuk satu kali kegiatan dan bila bersisa harus dibuang karena  vaksin BCG hanya boleh digunakan tidak lebih dari 3 jam setelah dilarutkan.
Vaksin BCG diberikan secara intrakutan pada sepertiga bagian lengan kanan atas. Jarum spuit dimasukkan ke dalam kulit dengan posisi sejajar lengan anak. Efek nyata yang timbul adalah adanya indurasi yang berwarna pucat dan bening pada bagian atas tempat penyuntikan. Hal ini masih berada dalam batas wajar dan akan menghilang dalam waktu beberapa jam. Ketika membersihkan lengan yang akan disuntik, dianjurkan untuk menggunakan air bersih karena penggunaan alkohol atau desinfektan dapat merusak vaksin BCG.
Imunisasi dasar yang lain adalah imunisasi campak yang idealnya diberikan pada bayi berusia 9 – 11 bulan. Sediaan vaksin campak juga berbentuk kemasan kering seperti BCG. Jadi, harus dilarutkan menggunakan diluent khusus vaksin campak sebanyak 5 ml dan satu kemasan vial vaksin campak ini berisi 10 dosis vaksinasi, namun pada prktek dilapangan, hanya dapat dipakai untuk ± 5 anak. Vaksin campak diberikan secara subkutan pada sepertiga bagian lengan atas. Namun, suntikan vaksin campak ini tidak menimbulkan indurasi seperi pada BCG.
Sementara itu, imunisasi dasar DPT pada balita  biasanya digabung dengan imunisasi Hepatitis B menggunakan vaksin DPT Combo. Vaksin campuran ini disebut vaksin DPT-HB karna nama COMBO adalah nama merek, sehingga sekarang tidak lagi disebut demikian. Vaksin DPT Combo ini diberikan sebanyak 3 kali dengan interval waktu 1 bulan pada bayi berusia 2 – 9 bulan. Sediaan vaksin DPT Combo adalah sediaan cair dengan satu kemasan vial 5 ml kira-kira untuk 8 – 10 suntikan vaksin. Vaksin DPT Combo disuntikkan secara intramuskuler pada bagian pertengahan paha anterolateral (paha bagian luar). Variasi tempat pemberian suntikan ini dimaksudkan untuk membedakan suntikan vaksin satu dengan yang lain. Vaksin ini diberikan untuk membentuk antibodi terhadap bakteri dipteri, pertusis, dan tetanus, serta Hepatitis B. Namun, pada bayi baru lahir (0-7 hari) diberikan vaksin Hb 0 yang menggunakan suatu suntikan khusus sekali pakai.
Imunisasi dasar yang terakhir adalah vaksin polio yang diberikan per oral atau Oral Polio Vaccine (OPV). OPV harus diberikan sebanyak 4 kali sebelum bayi berumur 1 tahun. Satu kemasan vial OPV yang dilengkapi pipet tetes berisi 1 ml vaksin cair atau kurang lebih 20 tetes. Dosis OPV per anak adalah 2 tetes, jadi satu vial OPV cukup untuk sekitar 10 anak, namun pada kenyataan di lapangan, 1 vial OPV hanya dapat dipakai untuk 7 anak.
Vaksin diberikan pada umur-umur tertentu sebab saat janin dan neonatus belum mempunyai kelenjar getah bening yang berkembang kecuali timus. Janin dapat membentuk IgM pada gestasi 6 bulan. Kemudian kadar IgM meningkat secara perlahan waktu lahir. Sedangkan IgG didapatkan dalam janin sekitar gestasi bulan ke-2 berasal dari ibu yang ditransfer melalui plasenta, bersifat antitoksik, antivirus, dan antibakterial. Kadar IgG meningkat dan mencapai puncaknya sekitar gestasi bulan ke-4. Namun setelah lahir, kadar IgG menurun perlahan bila bayi mulai membuat antibodinya sendiri. Di samping memberi perlindungan kepada bayi terhadap infeksi atau toksin, antibodi Ibu dapat pula mengurangi respons terhadap antigen (vaksin). Oleh karena itu pemberian berbagai imunisasi dengan vaksin yang berbeda-berbeda pula pada saat janin berusia tertentu.
Ketika akan menerima pemberian imunisasi, dianjurkan anak dalam keadaan sehat, tidak demam, dan tidak ada keluhan apapun. Hal ini dilakukan untuk menghindari kejadian ikutan yang tidak diharapkan. Karena, walaupun demam/panas adalah reaksi normal imunisasi, orang tua balita pasti akan marah atau tidak terima bila anaknya yang sedang tidak sehat malah jadi demam setelah imunisasi. Jadi, untuk menghindari hal tersebut, si balita harus dalam keadaan sehat. Setiap selesai memberi imunisasi, seorang petugas kesehatan perlu memberikan edukasi kepada orang tua anak agar orang tua tidak khawatir saat anaknya demam. Dan juga agar orang tua dapt langsung tanggap untuk membawa anaknya ke dokter bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Orang tua juga perlu diberi obat penurun panas sebagai persiapan apabila anaknya demam cukup tinggi dan tidak segera turun dalam waktu 24 jam.

BAB V
PENUTUP

Setelah melaksanakan field lab pada hari Selasa, 12 dan 26 April 2011 , bertempat di Puskesmas Tangen,Sragen dapat diambilkan kesimpulan bahwa kegiatan berjalan cukup lancar. Hal ini didukung adanya partisipasi dari mahasiswa yang berusaha sebaik mungkin untuk dapat memperhatikan dan memahami cara pemberian vaksin. Selain itu, staf puskemas juga telah banyak membantu dengan memberikan informasi secara jelas. 

DAFTAR PUSTAKA

Tim Field Lab FK UNS. 2010. Ketrampilan Pemantauan Status Gizi Balita dan Ibu Hamil. Surakarta: Tim Field Lab FK UNS.
http://vinadanvani.wordpress.com/2008/02/20/jenis-imunisasi-yang-diawajibkan-dan-dianjurkan/. Jenis Imunisasi yang Diwajibkan dan Dianjurkan . Akses 5 Mei 2011.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak 2010 . Akses 5 Mei 2011.
http://kompael.wordpress.com/2010/08/26/kipi/. Kegiatan Penanggulangan Kasus KIPI di Puskesmas Muka Payung. Akses 5 Mei 2011.
Baratawidjaja, KG,2009, Imunologi Dasar, edisi ke 8, Badan Penerbit FK UI, Jakarta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar